Dear You: Kenangan


II

Kepadamu, sang pemilik pagi yang sepi

Hai, apa kabar? ini aku, lagi!
Ku harap kau takkan pernah bosan membaca tulisanku ini, seperti aku yanag tak bosan mengulik ingatan tentang kita.

Kali ini aku sudah tidak memiliki perasaan terhadapmu lagi, sungguh. Tapi mungkin, aku masih memiliki setitik rindu padamu. Ini serius, tidak lebih sekadar aku merindukan temanku yang lain. Ku mohon jangan kecewa.

Kau tahu, setelah kau pergi, aku berusaha dengan susah payah membuka hatiku untuk orang lain. Tapi akhirnya aku tahu, ternyata itu begitu sulit, selalu ada bayanganmu di sana, sampai akhirnya aku menemukan sesorang yang aku anggap dia special. Di mana ia selalu mengejutkanku tentang sikapnya, tentang prilakunya kepadaku yang bisa membuat rasa moodku yang sering kacau menjadi sebuah senyuman bahagia. Dia yang selalu memberi tahuku, akan selalu ada rasa manis di saat pahitnya hidup. Membuatku kembali semangat menjalani hari yang terkadang menyebalkan.

Semakin aku mencoba meykinkan perasaanku, aku semakin merasa takut. Aku tak pernah berharap padanya agar ia bisa mendengar hatiku atau tahu perasaanku. Aku hanya memberitahunya dalam setiap doaku, menyampaikan rindu-rindu yang menyesakkan dada dalam setiap doa setelah sujudku. Aku berharap Tuhan bisa mendengarnya dan menyampaikan padanya.

Ingin tahu apa yang lebih konyol lagi? dunia seperti milikku sendiri, seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta, semua pemberiannya begitu istimewa. Bagaimana setiap kata-katanya bagaikan puisi bagiku, dan puisi bagaikan kata-katanya.* Dan lagu-lagu semuanya menjadi lagu cinta, tak ada lagu patah hati, semua lagu melow berubah menjadi lagu-lagu yang menyenangkan.

Sampai pada akhirnya, aku melupakan satu hal yang sebelumnya aku tahu. Atau aku hanya berpura-pura tidak tahu dan menutup sebelah mataku? Rasanya sangat menyesakkan, begitu pilu hingga napasku tercekat.

Ternyata aku masih belum bisa mengerti apa itu cinta,




Komentar

Postingan Populer