Dear You



I

Kepada mu

Sang pemilik pagi yang sepi

Aku merindukanmu, tapi kurasa kita telah menjadi dua orang asing yang tak saling bertegur sapa lagi. Bukankah begitu? atau hanya opiniku saja?
wahai pemilik pagi yang sepi, aku meragukan ketulusanmu entah karena apa? tapi yang ku tahu, kau tak lagi sama seperti dulu. Beberapa kali kau mengacuhkan ku, mengabaikan semua pesanku dengan berdalih kau sedang sibuk. Alasan klasik bukan?

Hei, tidak kah kau rindu jua padaku?
Di sini aku menanti pagi-pagi ceria bersamamu, seperti yang kita lakukan sebelumnya. Tidak kah kau menginginkan kebersamaan itu lagi?

Mungkin ini terdengar bodoh, tapi aku selalu suka saat kita menikmati senja sore bersama. Walau bukan senja indah di tepi pantai. Dan hanya senja yang muncul dari sela-sela bangunan tinggi, duduk bersama dalam diam, tak ada kata yang terucap, hanya ada semilir angin yang berhembus di antara kita. Sesekali aku mencuri pandang padamu, menatap senyummu yang tersungging di wajah lelahmu karena seharian bekerja.

Pernah dengar kalau rindu itu membuat bahagia? tapi nyatanya bagiku malah menyiksa. Rasanya aku ingin mencabiknya, aku sangat kesal dengannya, begitu pun denganmu. Kau tahu kenapa? ketika aku merindukanmu, kau mengabaikanku. ketika aku ingin kau ada di sisiku, kau malah berpaling dariku.
Lalu apa gunanya rindu datang? apa hanya untuk menguji perasaan? atau hanya untuk memamerkan seberapa hebat dia dalam suatu hubungan? entahlah.

Beberapa kali aku mencoba mengalah padanya, tapi berujung kepada kesia-siaan. aku malah menjadi seseorang yang lemah dan sering meneteskan air mata. Sial! seharusnya aku tidak perlu menceritakan ini padamu kan? pasti kau akan menggapku lemah dan tidak pantas untukmu perjuangkan.

Hei,bolehkah aku membencimu? atau bahkan harus? tidak, bukannya aku telah menjadi orang yang berbeda dan sama dengan mu. Tapi aku kesal karena tidak bisa menyampaikannya langsung padamu. Ya, mungkin kau benar, aku hanya mahir menuangkannya dalam tulisan seperti ini. Dan menjadi pengecut jika bertemu denganmu. Tak banyak kata yang bisa aku sampaikan, karena aku bukan tipe wanita yang pandai bicara. Tapi setidaknya, dulu kau pernah menyukaiku. Atau bahkan masih?
Terserah kalau kau menganggapku terlalu percaya diri, tapi itulah faktanya.


Masih banyak yang ingin aku sampaikan tentangmu, tentangku dan tentang kita, tapi tunggulah, aku pun perlu jeda untuk menuangkannya dalam setiap kata yang ingin kutulis...
Jangan terlalu terburu,




Ttd:

Aku si penyuka kopi





Komentar

Postingan Populer